Kegiatan ini diikuti secara antusias oleh masyarakat dari seluruh dusun di Desa Datara. Setelah mengikuti lokakarya, para peserta turun ke lapangan yang sudah diatur sedemikian rupa menjadi dapur bersama untuk mempraktikkan pembuatan "dodoro" — makanan tradisional khas yang menjadi identitas dan kekayaan budaya masyarakat Desa Datara setempat sejak turun-temurun.
Dalam laporannya, pelaksana kegiatan St. Junaeda, menyampaikan bahwa tradisi pembuatan Dodoro Malakaji merupakan kekayaan budaya yang tetap hidup di tengah masyarakat Kecamatan Tompobulu, khususnya di Desa Datara yang harus terus di jaga dan dilestarikan, tidak hanya bernilai tradisi tetapi juga bernilai ekonomi. "Dodoro Malakaji adalah warisan leluhur yang patut kita banggakan dan terus pertahankan hingga masa mendatang. Budaya ini harus tetap hidup, menjadi identitas kita, dan tidak hilang ditelan zaman," ujar St. Junaeda dengan penuh harap.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Iskandar Kosasih beserta rombongan dari Balai Pelestarian Kebudayaan XIX Sulawesi Selatan sekaligis melakukan monitoring terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Kegiatan ini juga dihadiri oleh beberapa narasumber bapak Rahmayanto, S.KM., beserta sejumlah tenaga medis dari UPT Puskesmas Tompobulu, serta Ketua Penggerak PKK Desa Datara, Ibu Tribuana Tunggadewi. Ditempat kegiatan lokakarya, Iskandar Kosasih dari Balai Pelestarian Kebudayaan XIX Sulawesi Selatan.
Dalam sambutannya menyampaikan di depan peserta Lokakarya Pembuatan Dodoro Malakaji. "Lokakarya ini menjadi pemantik bagi masyarakat di desa Datara untuk terus peduli terhadap pelestarian kebudayaan, khususnya ketahanan pangan berbasis budaya. Ia juga menjelaskan, bahwa program Fasilitasi Kebudayaan ini tidak bisa berjalan dengan baik apabila pihak masyarakat beserta pemerintah Desa tidak mengambil peran dalam proses pelestarian kebudayaan di lingkup pelaku Kebudayaan masing-masing. Pihak BPK 19 melalui program Fasilitasi Pelestaeian Kebudayaan akan terus mengawal proses pelestaeian Kebudayaan di Sulawesi Selatan. Harapan besar, bahwa program ini menjadi jembatan untuk masyarakat di Desa Datara untuk terus melestarikan kebudayaan makanan tradisional. Lebih dari itu, pekerjaan besar pasca kegiatan lokakarya ini, masyarakat di Desa Datara dan juga pemerintah setempat harus terus berinovasi dalam mengembangkan potensi makanan tradisional Dodoro, agar menjadi makanan yang enak, bergizi dan tentunya dengan kemasan yang lebih menarik agar dapat bersaing dengan produk lainnya di era yang modern hari ini.
Kehadiran berbagai elemen masyarakat menunjukkan bahwa pelestarian kuliner tradisional bukan sekadar soal rasa, melainkan upaya menjaga akar budaya, kearifan lokal, dan jati diri bangsa. Bertepatan dengan semangat kemerdekaan, lokakarya ini menjadi bukti bahwa mencintai dan melestarikan warisan leluhur adalah salah satu cara terbaik untuk mengisi kemerdekaan dengan karya dan budaya bangsa sendiri. Kegiatan berjalan penuh keakraban dan semangat kekeluargaan, serta berlangsung dengan lancar hingga selesai.
Pewarta: Team Redaksi
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar